Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu. Tampilkan semua postingan

CONTOH PENGETIKAN DAN PETIKAN NASKAH SURYALIS

0 komentar
 CONTOH PENGETIKAN DAN PETIKAN NASKAH SURYALIS

JUDUL “PARA PEMBUNUH”
KARYA GT SASMITA

BABAK 3
PELAKU     : ZUL, PENARI
LATAR     : RUANG TAHANAN
SINOPSIS   : BERINTAK DALAM RUANG TAHANAN

     Tarian-tarian membentuk teralis besi (mengibaratkan ruang tahanan) sedangkan ditengahnya nampak seseorang tahanan yaitu pimpinan para pembunuh yang baru saja diadili, tertunduk lesu, namun dengan sorot matanya yang penuh dendam dan tanda tanya.
     Nafasnya semakin cepat dengan emosi yang meluap-luap dan dia menyampaikan isi hatinya!

ZUL       : (berontak) “Haaaaaachhh! Apa yang kalian lakukan padaku? Apa kalian benar benar buta untuk melihat penderitaanku!? Aku seperti ini karena kaummu yang melakukan ini pada ku! Kalian benar benar bengis! Biadap! Kau anggap apa aku ini? Hewan? Budak? Laknat kalian penguasa? Kau perlakukan kaumku seperti ini! Tanpa kalian tau sejauh mana pernderitaan kaumku! Apa Kau hanya menciptakan kaumku hanya untuk merasakan siksa?! Kau menciptakan ketidakadilan pada kaumku! Lalu kau melarang kaumku untuk balas dendam! Sampai kapan kau membela mereka yang selalu merasakan dirinya hebat! Sampai kapan!? Apa aku dan kaumku tidak pantas merasakan kebahagiaan! Sedikit saja! Sedikit Tuhan!(teriak-menangis-tertunduk lesu)”

     Para penari berputar-putar mengibaratkan kecarut marutan segala fikiran Zul dalam usaha membela kaumnya. Perlahan lampu panggung semakin padam.

BABAK 4

PELAKU     : ANAK BUAH ZUL
LATAR     : MARKAS
SINOPSIS   : PERDEBATAN ANGGOTA

     Perdebatan dimulai antar anggota pembunuh setelah kehilangan Zul (pemimpinnya), dan saat itu adalah saat dimana kabar tersiar bahwa Zul akan bebas. Dan kembali akan menemui seluruh anggota yang telah mengangkatnya menjadi pemimpin 3 tahun yang lalu.
     Perdebatan itu mengisahkan tentang rencana pembunuhan yang telah dirancang Zul sebelum ia menghuni rumah tahanan. Kegelisahan begitu nampak karena tak satupun tugas mereka selesaikan.
     Salah satu tampak mondar mandir.

LELA      : “Dari tadi kerjamu hanya mondar mandir, kesana kesini. Mana kerjamu?! Tidakkah lebih baik kau melakukan pekerjaan yang lebih bisa kau kerjakan?!”

(Mey menghentikan langkahnya)

YOLAND    : “Iya... setidaknya kau tidak membuat kepala kami pusing seperti ini Mey!”

     (Mey jalan lagi)

YOLAND    : (mulai marah) “Hei!? Apa kau tidak dengar aku menyuruhmu bekerja?”
MEY       : “  Sssssttt... (tegas) Dari tadi kau menanyakan kerjaku. Apa kalian tidak sadar jika kerjaku selama ini ya seperti ini. Menunggu rumah ini jika kalian tidak ada di rumah. Menunggu Dion, menunggu Krist, dan menunggu Ruth, yang sama dengan kalian. (perlahan lantang) Menunggu Zul datang menunggu, menunggu, dan menunggu sampai batas aku menunggu saat yang tepat untuk aku melemparkan bom itu tepat di depan pimpinan bajingan itu berdiri!”
LELA      : (Lela tertawa sinis) “ Harusnya kau ajak dulu lidahmu untuk     berfikir sebelum kau mengatakan kata-katamu yang tak sempat aku dengar tadi?!”
YOLAND    : “Mey..? apa kau tak melihat kerjaku bersama Lela lebih berat dari sekedar menunggu?”
MEY       : “Aku hanya menaati pimpinan kita “Zul”. Dulu dia yang menyuruhku.”
YOLAND    : “Keputusan itu bisa berubah sewaktu waktu-setiap detik. Seperti kerjaku. Tiap detik kami selalu berubah ubah fikiran untuk menentukan dimana letak yang strategis untuk menempatkan bom itu.”
LELA      : “Bahkan energi kita, hanya terpusat pada urat-urat mata kita!”
YOLAND    : “Untuk itu aku sangat tidak terima jika kau yang melakukan semuanya. Harusnya aku yang melakukan Mey?!”
LELA      : (lantang) “ Yoland! Aku yang lebih layak! Karena kau di sini hanya membantuku! Tidak lebih! ”
YOLAND    : “Aku! Karena selama ini, sebagai pemimpin-tugasmu hanya diam dan selelu menyibukkan dirimu sendiri.”

     Lela merasa malu-Mey tertawa

MEY       : “Ternyata statement- statement kalian terlalu lemah. Apa pantas kalian melakukan tugas itu?! Bagi ku ti-dak pan-tas! Akan ku beri alasan yang tepat pada kalian hingga aku kalian anggap layak melakukannya! (move) ketahuilah, aku adalah satu di antara kalian yang paling banyak merasakan siksa. Siksa oleh negeri ini, siksa oleh seluruh laki laki yang terlalu tunduk pada pimpinannya! Harga diriku lebih rendah dibandingkan kalian. (tegas) Maka aku yang layak melemparkannya!”
LELA&YOLAND : “Tidak! Aku yang palin pantas!”

CONTOH PENGETIKAN DAN PETIKAN NASKAH REALIS

0 komentar
CONTOH PENGETIKAN DAN PETIKAN NASKAH REALIS

JUDUL “HARAM”
KARYA GT SASMITA

BABAK 5
PELAKU     : ROSA, SETAN PEMBAWA BAYI
LATAR      : Sebuah tempat pengasingan
SINOPSIS   :Rosa hamil dalam kondisi strees-hingga melahirkan

      Dalam kegalauan pikiran yang luar biasa, beban teramat berat dan aib yang begitu getir dirasakan Rosa. Kehamilan yang tak pernah diharapkan dating setelah usaha Rosa mencari ayahnya gagal dan Rosa terjerumus dalam jalan begitu gelap. Rosa begitu menyesali keadaannya dan berusaha berontak pada dirinya sendiri

ROSA        : (dalam kondisi kejiwaan yang mulai terganggu, menghimpit makanan, memakannya, sedikit disertai senyuman kosong-tertawa dan berteriak sambil menangis memanggil ibunya) “Ma… kenapa harus aku?! Kenapa harus aku yang merasakan masa lalumu yang pahit itu?-hanya untuk menemukan priya penananm benih dalam rahim mu?! Aku ma? Aku! Rosa anakmu…!(tertawa-merasakan sakit pada perutnya, kesakitan dan meronta ronta)Aucch… perutku? Perutku sakit? Perutku… (teriak) Perutku? Aaaaacchhhh perutku sakit!!”

Musik meninggi mengiringi datangnya sesosok roh jahat meneari-nari seolah menunjukan dan menukar bayi yang di kandung Rosa dengan bayi haram atas perbuatan Rosa sebelumnya.

BABAK 6
PELAKU     : ROSA, IBU MUDA
LATAR : Sebuah tempat pengasingan
SINOPSIS    : Rosa merawat bayinya, ibu muda berusaha mengadopsi
      Beban mental yang dialami Rosa, tidak membuat Rosa kehilangan kasih saying terhadap buah hatinya. Ia merawat dengan penuh kasih sayang.

ROSA        : “Nang ning ning nang ning nung… nang ning nung ning nang ning nung… duuuh anakku... besok jangan seperti ibu ya? Kamu harus lebih pinter dari pada ibu? Si putli putli cantik ini namanya siapa? (mendekatkan bayinya-seolah mendengarkan bayinya bicara) Apa? Namanya siapa? (raut muka berubah sedih,seperti mengdengarkan sesuatu) namanya Suci? (duduk di suatu tempat-kembali Nampak gila)Suci… namanya Suci…? (berdiri pindah ke tempat lain) Nggak…! Tidak boleh. Kamu tidak boleh memakai nama itu nak? Tidak boleh! (tersentak seolah bayinya menangis) Cup cup cup… anak ibu yang cantik? Jangan nangis ya? Ibu juga suka dengan nama itu? Suci kan? (raut muka berubah senang,tetap gila, mengelilingi panggung) Suci… Namanya suci. (tertawa) Namanya bagus. (Diam sejenak) Adek haus ya? Mau minum susu? Tapi minumnya jangan di sini. Nanti kalau minumnya di sini, minumya adek nyar di ambil orang lho? Sekarang kita harus cari tempat dek? Yang aman. (mencari-mengeliingi, mencari tempat yang aman) Di mana ya dek tempat yang aman? (menemukan tepatnya) Nah… di situ dek? Aman. (Rosa menyusui anknya)”

      Ditengah Rosa menyusui, Rosa merasa lapar, kemudian menemukan sisa makanan yang telah dibuang. R  osa memungutnya dan segera memakannya. Bayinya menangis seolah menginginkan maknan yang di makan oleh ibunya. Rosa menawarkannya dan mengunyahkannya sampai lembut sebelum kemudian Rosa menyupkan makanan yang telah dikunyaknya pada Suci anaknya.

“Adek kok lhat ibu terus? Mau? Ini namanya Roti… masih enak dek? Sebentar ya? (mengunyahkan-menyuapkan) Nah sekarang sudah kenyang kan? Jangan nangis lagi ya? Aduuuuuuh anak ibu? (tiba-tiba Rosa merasakan ada seseorang yang datang)Sssssssst. Dek? Ada orang. Kita harus hati-hati. Minumnya dilanjutkan nanti saja ya dek?”

      Muncul Ibu muda yang bermaksud untuk merebut Suci dengan tujuan ingin mengadopsi. Akan tetapi Rosa tidak mengijinkannya.

IBU MUDA    : (sedikit ketakutan)“ Anaknya cantik ya? Namanya siapa? ”
ROSA        : (marah) “Kamu siapa?! Mau apa kamu datang kemari?”
IBU MUDA    : “Mbak? Mbak tidak perlu takut sama saya. Saya tidak punya niat buruk sama mbak?”
ROSA        : “Lalu”
IBU MUDA    : “Ayo kita ngoborl di sana biar lebih enak. Biar bayi mbak tenang. Ayo mbak ikut saya?”
      Pindah ke suatu tempat
IBU MUDA    : “Mbak… saya ini sudah lama menikah, akan tetapi saya belum juga dapat momongan. Jadi…”
ROSA        : (Rosa membantah)“Tidak mau! Sjangan mengambil anakku!?
IBU MUDA    : “Saya tidak mengambil? Saya hanya mau mengadopsi? Kalau mbak mau, mbak juga bias tinggal di rumah saya.
ROSA        : “ Tidak mau! Saya ini masih mampu! Saya masih bias membesarkan anak saya! Lebih baik kamu pergi dan jangan dekati anak saya!”
IBU MUDA    : “Mbak… niat saya baik mbak?”
ROSA        : “Pergi!”

Ibu muda menginggalkan Rosa, namun mencoba kembali lagi

IBU MUDA    : “Niat saya baik mbak?”
ROSA        : “Pergi saya bilang!”

      Rosa sangat terpukul dengan kondisi tersebut. Rosa menangis histeris. Dengan memluk erat anaknya dengan penuh kasihsayang.

“Ibu tidak gila nak…? Ibu tidak gila. (mecium anaknya) Ibu tidak gila. Ibu hanya ingin membesarkanmu sendiri. Ibu ini masih mampu. Ibu masihmampu Suci… Suci… hari ini ibu berjanji, akan menjadikanmu macan,(lebih tegas) ibu berjanji akan menjadikanmu macan!dan tuntutlah balas kelakuan kakekmu nak? (suara rendah) dengan prestasimu, dengan kepandaianmu, dan dengan seluruh kemampuanmu.kau macan ibu nak? Kau macan ibu…”
Mama rosa datng menemukan Rosa.
MAMA        : “Rosa? ”
ROSA        : “Mama… mama…? (menghampiri) Mama maafkan Rosa ma? Maafkan Rosa?”

      Muncul juga beberapa penari ledek yang mengibaratkan mimpi atau harapan akan kembali jayanya tari ledek pada masa datang.

MAMA        : “Tidak ada yang perlu disalahkan nak? Rosa… mari kita akhiri semua ini nak? Biarkan anakmu ini menjadi yang terakhir dari para penari penari ledek. Kamu yang akan merubah citra ledek. Pengalamanmu adalah yang paling berharga. Lanjutkan langkahmu nak. Mama akan selalu ada di belakang mu. Mulai sekarng jangan kau sesali apa yang sudah terjadi. Kita awali lagi hidup bahagia. Bersama Mama dan anakmu ini.”

(Mama mengangkat kepala Rosa)

MAMA        : “Rosa…?”
ROSA        : “Mama”
      Keduanya saling berpelukan dan saling meminta maaf.
S E L E S A I

JENIS-JENIS NASKAH

0 komentar
JENIS-JENIS NASKAH


      Pementasan teater dibagi menjadi beberapa jenis pementasan /aliran. Antara lain adalah sebagi berikut:


1.  Aliran realisme

Adalah aliran yang ingin mengemukakan kenyataan atau sesuatu yang bersifat lahiriyah. Sifat yang terkandung dalam karya-karya beraliran realisme ini adalah adanya obyektivitas yang sangat tinggi, karena pengarang menggambarkan dunia kenyataan mulai dari dialog hingga pernak-pernik yang akan dipentaskan.

2.  Absurd

Secara etimologis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Absurditas adalah suatu paham atau aliran yang didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia secara umum tidak berarti dan tidak masuk akal. Jadi, karya absturd adalah karya yang dalam pembuatan dan pementasannya memiliki tingkat kesulitan yg tinggi. Mulai dari pembuatah dialog tohoknya hingga tata artistik nya. Seniman abstrud tidak mengedepankan pementasan yang bisa di pahami penontonnya, melainkan hanya pementasan eksperimental dari penggagasnya

3.  Suryalis


Surealisme adalah aliran di dalam kesusastraan yang banyak melukiskan segala sesuatunya dengan kekuatan kata-kata(dialog) atau tingkah laku aktor sebagai simbol penyampaian cerita. Biasanya aliran ini tidak memerlukan banyak tata artistik.

UNSUR YANG JUGA PENTING

0 komentar
blitar in act
PEMAIN
     Untuk mentransformasikan naskah di atas panggung dibutuhkan pemain yang mampu menghidupkan  tokoh dalam naskah menjadi sosok yang nyata. Pemain juga punya kewenangan mengadaptasi sendiri naskahnya.

PENONTON
     Mereka adalah kunci terakhir dari segala bentuk pementasan. Penontonlah yang sanggup memberikan apresiasi yang jujur terhadap pementasan kita. Maka dari itu, dalam sebuah pementasan,sebuah kelompok teater wajib memberikan penampilan terbaik untuk mendapat perhatian penonton.

MENJADI SUTRADARA

0 komentar
SUTRADARA

     Tidak gampang menjadi sutradara, akan tetapi bukan tidak mungkin jika kita berkeinginan menjadi sutradara.
naomi (penulis), sas (sutadara muda) ,jujuk (gandrik)

     Seorang sutradara bertanggung jawab penuh atas proses tranformasi lakon ke bentuk pementasan, karena  sutradara merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah pementasan teater.
     Sebagai pimpinan, sutradara harus punya pedoman pasti sehingga bisa mengatasi kesulitan yang timbul seperti berikut,yaitu:
  


              SUTRADARA KONSEPTOR

Ia menentukan pokok penafsiran dan menyarankan konsepnya kepada pemain. Pemain dibiarkan mengambangkan konsep itu secara kreatif. 

·         SUTRADARA DIKTATOR
Ia mengahrapkan pemain disetak separti dirinya. Tidak ada konsep penafsiran dua arah.

·         SUTRADARA PATERNALIS
Ia bertindak sebagai guru yang mengamalkan ilmu bersamaan dengan mengasuh batin anggotanya.

UNSUR PEMBENTUK NASKAH

0 komentar
UNSUR PEMBENTUK NASKAH

     Dalam khasanah teater remaja/dewasa dapat disimpulkan unsur utama adalah naskah lakon,sutradara, pemain, dan penonton. Sedangkan untuk mendukung keempat unsur diatas adalah tata artistik yang membrikan keindahan dan mempertegas makna lakon yang dipentaskan.

NASKAH
     Salah satu ciri mendasar dalam naskah lakon adalah harus mempunyai struktur yang jelas, yaitu tema,plot,setting, dan tokoh.
     Akan tetapi Aristhoteles telah menemukan komposisi yang lbih gamblang dalam menentukan dan membuat naskah lakon yaitu hatus memiliki 5 unsur diantaranya :

  1. Eksposisi (pemamparan)
Sebuah naskah harus memiliki sinopsis yang rinci sebagai patokan pembaca/ pelaku untuk mengetahui jalan cerita yang akan di pentaskan.

  1. Komplikasi (tehnik muncul)
Hal ini wajib disertakan bertujuan menarik perhatian      penonton.

  1. Klimaks (puncak ketegangan)
Dalam sebuah cerita atau pementasan harus ada klimaks agar cerita sanggup memberi kesan tersendiri kepada penontonnya. Sehingga penonton dapat memberikan apresiasi dan sanggup memilah milah apa yang ingin disampaikan pada cerita. 

  1.  Anti klimaks (ketegangan menurun)
Dalam pementasan juga wajib anti klimaks agar penonton lebih memahami apa yang ingin kita sampaikan dalam pementasan tersebut. Anti klimaks bukan berarti cerita sudah selesai lho? Akan tetapi lebih menekankan pada pepmabian masalah. Nggak enak juga kan kita lihat pementasan yang isinya perkelahian terus?

  1. Resolusi (penegasan)
Lebih gampangnya adalah penyampaian maksud cerita.

  1. Konklusi (kesimpulan)
Nah... sedangkan di tahap ini, semuanya harus tau bagaimana kita membuat ending atau kesimpulan cerita.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

0 komentar
      Ada banyak hal yang bisa harus dilakukan untuk berkecipung dalam dunia Perteateran. Kususnya jika anda ingin menadi Director. Dan ini menyenanagkan bahkan bisa di bilang gila. Akan tetapi, yach...? Memang ini yang harus dilakukan.

monyet aja ngayal

 Pertama 

 MENGHAYAL
       
     Diperlukannya menghayal. Karena dalam pengembangannya, ide cerita atau gagasan tidak akan sempurna tanpa pernak pernik dari fikiran bawah sadar kita (Menghayal). Apalagi jika kita ingin membuat naskah sendiri. Mutlak dibutuhkan khayalan tingkat tinggi untuk mewujudkannya.
kalo ga k ada pena,pencil juga oke.

                                      Kedua
                                   MENNULIS
         
         Hal ini sudah pasti dilakukan agar gagasan itu tidak terbengkalai kemana-mana, alias lupa. Sering sekali para sutradara atau penulis naskah membawa sebuah buku kecil kemana - mana. hal ini di maksudkan agar jika suatu saat dia mendapatkan ide untuk sebuah karyanya, dia langsung mencatat dan mengembangkannya sesuai dengan karya yang akan di buatnya.


reading
Ketiga
MEMAINKAN

    Nggak asyik kan hanya berkhayal dan menulis tanpa mencoba memerankan? Gak perlu di panggung yang sesungguhnya, akan tetapi alangkah baiknya jika mencoba mempraktekkan hasil karya kita sebelum dimainkan para pelakunya. tujuannya biar kita faham betul dengan apa yang kita inginkan. skalian biar g malu juga ntar kalau anak buah minta di contohin. hehehe

ASAL MULA TEATER INDONESIA

0 komentar
1511
awal kedatangan Portugis
     Pendaratan Portugis dan kemudian menyebarkan kesenian Keroncong  

Awal kedatangan Belanda
1607  
     Pendaratan Belanda dan membuat permukiman di Ambon 1619 Batavia menjadi pusat 1620 Pertunjukan teater Boneka (Marionate) sebagai kesenian dari portugis 1629 Pementasan lakon “Raja Swedia & Raja Denmark (Kisah tentang Pengepungan Batavia oleh Sultan Agung)
 
1757
     Perizinan seorang perancis untuk mendirikan bangunan komedi (teater) dan melakukan pementasan-pementasan yang sukses besar.
1760
     Bangunan Komedi dihancurkan karena mendapat tantangan dari Belanda
1780
     Pendirian gedung sandiwara di utara Batavia tetapi mendapat pertentangan dari gereja
                                        1781
Gedung Sandiwara Pertama
    
Gedung sandiwara dihancurkan disebabkan pelarangan mengadakan pertunjukan pada hari kebaktian dan izin dicabut


1812
     Indonesia dikuasai oleh Inggris, pada zaman itu Inggris membangun gedung kesenian darurat. Pada tanggal 17 Oktober 1814 diadakanlah pertunjukan teater “The Heir at Law”

1816
     Belanda merebut kuasa Inggris atas Indonesia. Pertunjukan “Hamlet” gi gedung tersebut diserbu oleh belanda.

Perkembangan Teater Modern

     Latar belakang sosial dan situasi pada suatu masa menjadi sebuah hal utama bagi perkembangan teater di Indonesia. Teater modern di Indonesia adalah produk-produk orang kota, diciptakan oleh penduduk kota untuk penduduk kota pula. Pada dasarnya bentuk teater modern merupakan hasil dari pengaruh kesenian modern Barat di kota-kota. Ada pun ciri-ciri dari bentuk teater modern secara garis besar dan mendasar adalah sebagai berikut:
Gedung teater
Nusa Dua Bali


Panggung teater prosceneum terbuka Blitar

     
     1. pertunjukan telah dilakukan di tempat khusus, yakni      sebuah bangunan panggung prosceneum yang memisahkan penonton dengan pemain,
     2. penonton harus membayar,
     3. fungsinya adalah sebagai hiburan dalam segala gradasinya,
     4. unsur cerita erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa sezaman,
     5. adanya idiom-idiom modern seperti adanya intermeso, pemimpin pertunjukan, lagu-lagu keroncong atau Melayu dengan peralatan musik modern,
     6. bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu-pasar, Melayu-tinggi atau bahasa indonesia, yaitu bahasa yang merupakan lingua franca kaum penduduk kota pada masanya,
     7. adanya pegangan cerita tertulis atau bahkan naskah-naskah drama yang tertulis.
AdtBoen S. Oemarjat dan naskahnyad
     Terdapat periodisasi dalam mengkalsifikasikan perkembangan teater modern di Indonesia. Boen S. Oemarjati telah membuat periodisasi untuk sastra drama Indonesia sebagai berikut:
     1. periode Kebangkitan (1926-1942)
     2. periode Pembangunan (1942-1945)
     3. periode 1950-1963
     Dalam hal itu Boen memusatkan diri kepada unsur sastra dramanya, dan penelitiannya dilakukan pada akhir 1960-an. Sedangkan dalam sumber yang didapat, penulis buku sumber yang dibaca, mengemukakan periodisasi sementara yang berbeda, seperti berikut:
     1. masa Perintisan Teater Modern (1885-1925)
        a. teater Bangsawan (1885-1925)
        b. teater Stamboel (1891-1902)
        c. teater Opera (1906-1925)
     2. masa Kebangkitan Teater Modern (1925-1941)
        a. teater Miss Riboet’s Orion (1925)
        b. teater Dardanella (1926-1936)
        c. awal Teater Modern Indonesia (1926)
     3. masa Perkembangan Teater Modern (1942-1970)
        a. teater Zaman Jepang
        b. teater Tahun 1950-an
        c. teater Tahun 1960-an
     4. masa Teater Mutakhir (1970-1980)

     Dalam buku Boen S Oemarjati dinyatakan bahwa teater tertua di Indonesia dimulai oleh Komedi Stambul pada tahun 1891. Istilah “Stamboel” sendiri baru muncul setelah adanya rombongan-rombongan teater yang biasa disebut “Bangsawan”.asal usul teater ini ternyata dari Penang, Malaysia Pada 1870-an di Penang, Malaysia, bermain rombongan teater dari India, dengan memergunakan bahasa India (Urdu?), yang oleh penduduk Malaysia setempat dinamai “Wayang Parsi”, nama teater itu sendiri adalah “Mendu”. Rahmah Bujang merinci ciri-ciri dari teater bangsawan ini berdasarkan pendapat Brandon sebagai berikut:

     1. cerita lakon terdiri dari banyak episode, sehingga cerita berjalan agak lamban,
     2. unsur cerita pokok dibumbui oleh unsur-unsur humor, farce, dan melodrama,
     3. cerita pokok 40% terdiri dari hikayat-hikayat lama Melayu atau cerita –cerita lama setempat, 30% terdiri dari cerita-cerita sezaman, dan masing-masing 10% cerita diambil dari Arab, Hindu, serta Cina,
     4. penyajian cerita selalu memunyai pola yang sama atau mirip,
     5. seting cerita sebagian besar dari lingkungan-lingkungan raja-raja dan bangsawan,
     6. cerita memiliki tujuan didaktis,
     7. karakter-karakter yang disuguhkan bersifat “stock type”,
     8. permainan di panggung dilakukan secara improvisasi,
     9. pertunjukan merupakan campuran dialog, nyanyian, dan tarian.
     
August Mahieu
     Adapun komedi Stamboel yang didirikan oleh Augus Mahieu, seorang Indo-Prancis kelahiran Surabaya (1860-1906), sekitar 1891 telah menjadi satu diantara yang pada suatu saat memengaruhi perkembangan teater di Indonesia.
Ciri-ciri pertunjukan Stamboel adalah
     1. Sebelum permainan dimulai, para pelaku mengenalkan diri terlebih dahulu kepada penonton,
     2. pembagian babak atau episode cerita dilakukan amat longgar,
     3. jalan cerita dari pertunjukannya bersifat lamban, sehingga pertunjukan berjalan selama 2 atau 3 malam berturut-turut,
     4. adegan gembira atau sedih dibentuk dengan nyanyian, bukan dialog.
     Pada 1906 August Mahieu mengundurkan diri ke Bumiayu dan tidak lama meninggal dunia. Sekitar 1908 dikalangan masyarakat Cina timbul “Opera Derma” atau Tjoe Toe Hie. Hadirnya perkumpulan teater sosial itu di Vettervraden oleh para Cina-Peranakan, telah mengangkat sebuah istilah tentang teater amatur. Amatur berarti tidak mengandalkan improvisasi di atas panggung melainkan telah menggunakan naskah-naskah tertulis, tidak mengandalkan keuntungan dari pertunjukan seperti yang dilakukan oleh rombongan teater profesional melainkan memiliki tujuan untuk pemberdayaan dan pengembangan minat terhadap sastra dan drama.

Kebangkitan Teater Modern Indonesia
     Mamak Pushi, Jaafar, August Mahieu, dan Sim Tek Bie adalah pemimpin-pemimpin rombongan teater profesional yang berasal dari lingkungan kurang terpelajar. Mereka adalah pemilik modal yang hendak menjalankan modalnya lewat “perdagangan” teater baru. Pada 1925 rombongan Orion terbentuk berkat T.D.Tio Jr atau Tio Tik Djien, yang menanamkan modalnya. Diantara rombongan teater waktu itu, yang pula ikut mengawali perkembangan teater modern di Indonesia, adalah The Union Dahlia Opera dibawah pimpinan Teungku Katon of Medan, The Malay Opera Of Malacca yang dipimpin oleh Wan Yet al Kaf sejak 1915 di Malaysia. Tidak lama kemudian, pada 21 Juni 1926, Boen S Oemarjati mencatat bahwa kelompok teater Dardanella lahir di tengah-tengah masa kejayaannya Orion. Berdiri di kota Sidoarjo. Pendirinya ialah Willy Klimanoff alias A. Pedro, seorang Rusia Putih kelahiran Penang. Dan pada 1931 antara Orion dengan Dardanella terjadi persaingan yang sangat keras. Namun yang terjadi dalam persaingan itu, Orion kalah, dan pada 1934, penulis handal dari Orion, Nyoo Cheong Seng, bersama istrinya, aktirs Fifi Young alias Tan Kim Nio, menyeberang kepihak Dardanella. Masa kejayaan Dardanella berlangsung sekitar 10 tahun. Pada 1935 Dardanella mengadakan perjalanan keliling Asia (Tour d’orient) untuk memertunjukan tarian-tarian Indonesia dan Nyanyian-nyanyian. Kemudian dilanjutkan ke Eropa. Setelah itu perkumpulan Dardanella pecah dan bubar.
Awal Teater Modern

     Teater baru yang muncul dikalangan masyarakat kota Indonesia dalah teater profesional. Sejak dari rombongan teater Jafaar dalam 1880-an, teater Stamboel milik August Mahieu pada 1891, teater Opera Soei Ban Lian pada 1911, teater Miss Riboet’s Orion pada 1925, dan teater Dardanella pada 1925, sampai sekarang. Sementara itu muncul pula rombongan-rombongan teater insidental yang berkembang dalam organisasi-organisasi sosial, berupa teater amatur atau teater penggemar atau teater dilletant. Menurut penulis sastra Melayu-Cina, Lauw Giok Lan, pada 1913, dapat disimak, dikalangan kaum terpelajar pribumi, terutama para student sekolah Dokter Jawa dan para calon pangreh Praja berkembang teater amatur. Sehingga yang terjadi adalah bahwa penontonnya pula adalah bukan penonton umum seperti yang terjadi pada kelompok teater profesional, walaupun ada sedikit kemungkinan, melainkan kaum-kaum yang pula terpelajar. Berikut ini adalah perbedaan antara teater profesional dengan teater amatur, 1. teater profesional merupakan kelompok teater tetap yang bekerja untuk mencari nafkah, sedangkan teater amatur merupakan rombongan insidental, 2. teater profesional lebih melayani “selera massa”, sedangkan teater amatur lebih memunyai idealisme baik dalam arti moral maupun estetik daripada memikirkan efek dagangannya, 3. teater prodfesional dimainkan oleh orang-orang yang kurang berpendidikan, sedangkan teater amatur justru dimainkan oleh orang-orang yang relatif berpendidikan tinggi, 4. teater profesional dapat bermain tanpa naskah drama, sedangkan teater amatur harus selalu dengan naskah drama sebagai hafalannya, 5. sasaran penonton teater profesional adalah penduduk kota yang “umum” yang kurang terpelajar, sedangkan penonton teater amatur adalah orang-orang dari lingkungan kaum terdidik. Setelah Jepang mendarat di Indonesia pada 8 Maret 1942, perteateran di Indonesia mengalami kejadian yang berarti sekaligus buruk. Pada masa-masa itu semua rombongan teater yang ada menjadi perhatian penting pemerintahan Jepang, hal itu dikarenakan adanya ketakutan kekuatan-kekuatan pemberontakan terhadapnya yang terselubung dalam rombongan itu. Oleh karena itu pula, Jepang mendirikan sebuah pusat kebudayaan atau Keimin Bunka shidosho pada 1 April 1943. Tujuannya adalah untuk dapat mengontrol setiap pergerakan dari para budayawan pribumi. Sanusi Pane ditunjuk untuk menjadi ketua. Akan tetapi tidak lama setelah itu, di Jakarta pada 6 Oktober 1943, dibentuklah Pusat Kesenian Indonesia oleh beberapa seniman Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengembangkan seni Indonesia Baru dengan memperbaiki kesenian daerah, dan ketuanya adalah pula Sanusi Pane. Semenjak itu pula rombongan teater baru bermunculan, sebagai bukti adanya semangat untuk melanjutkan kegiatan-kegiatan rombongan teater sebelumnya menuju ke teater modern, seperti Bintang Surabaya pada Desember 1942 yang dipimpin oleh Fred Young, rombongan Dewi Mada pada 1943, rombongan Warna Sari pada 1943, rombongan Irama Masa yang merupakan pecahan dari Bintang Surabaya dibawah pimpinan Ali Yugo, rombongan Miss Ribut, dan yang lainnya, yang bergerak di jalur yang sama sebagai rombongan teater profesional. Untuk teater amtur bermunculan rombongan teater seperti rombongan teater Angkatan Muda Matahari pada 6 April 1943, rombongan Murni, rombongan Sandiwara Penggemar Maya, dan rombongan Reaksi Seni